September 13, 2013

Stress, Pantai dan Dia.



Dua hari yang lalu, ketika ingin memulai proyek #PeopleAroundUs yang dicetuskan @aMrazing yang gagah dan menawan bagai … (oke, mulai berlebihan), otak saya berpikir keras kira-kira apa yang ingin saya ceritakan.Lalu kursor saya pandu menuju shortcut Microsoft Word, klik dua kali dan kertas digital itu siap diketik. Awalnya jari-jari saya lancar, lalu seperti seorang sopir melepaskan kakinya pada pedal gas berganti menginjak rem, kecepatan saya menurun kemudian berhenti. Kalo ada yang merekam muka saya saat itu, saya mendadak mirip Song Ji Hyo (ngareep!!) ketika blank di Running Man. Iya pemirsah.. saya blank! Otak buntu tidak bisa merangkai kata dan akhirnya kusut.

Sampai tadi, saya masih mencoba menulis lagi, tapi tetap tidak bisa menyelesaikannya. Ide itu ada disana, tapi saya tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat. Udara panas sekali siang ini, otak pun tidak kalah panasnya, mood jeleknya bukan main. Saya memutuskan mentweet sahabat untuk mengajaknya keluar. Oh, kenapa harus lewat twitter dan bukan telpon, karena dia sedang eksis-eksisnya di dunia pertwitteran, kalau di telpon belum tentu nyaut. Bunyi tweet saya seperti ini: “Ko dimana? Keluar bentar yuk, cari inspirasi.. mbuntu nih..”. Mahap ya, bahasanya agak di mix dengan bahasa sehari-hari orang waingapu. Balasannya nggak lama “Yukksss siap su nti sa jemput (^.^)”. Oke siip, saya pun berganti pakaian dan menunggu tapi dia nggak datang juga, padahal rumah kami cuma perlu berjalan lurus melewati dua blok, belok kiri dan lurus lagi beberapa meter. Mulai kesel saya tweet lagi “44mnt yg lalu ko bls, tp tdk dtg2 jg -_-“. Lagi-lagi balasan datangnya pake pesawat jet, “Habis ko tdk ada jawaban iya ato tdk nah”, ini jawaban emang rada-rada.. haiiiis ya sudahlah. “sy yg ajak sdh pasti sy siap lah..” balas saya yang langsung di’okee jeng’kan olehnya.

Saya bilang padanya kalau saya sedikit stress karena tiba-tiba “lumpuh” menulis, dia beranggapan mungkin karena saya jarang keluar rumah akhir-akhir ini jadinya tidak mendapatkan ilham. Tanpa berpikir panjang, dia memutar arah menuju pantai. Di Waingapu, kau tidak akan menemukan tempat nongkrong semacam yang banyak betebaran di kota besar, disini hanya punya pantai-pantai, padang sabana, air terjun, itu pun jarak tempuhnya lumayan jauh dari kota waingapu. Ketika berada di panatai tadi, mood saya membaik. Sepertinya stress itu dibawa kabur oleh angin, dibuang ke air, dipermainkan oleh ombak. Berjalan di pinggir pantai seakan diberi pijatan refleksi oleh air, pasir dan kerikil. Dia menyodorkan kamera, “fotoin” katanya. Di balik kamera, pikiran itu terlintas “akan saya tulis tentang stress ini, pantai, dan dia”. Efek pantai sepertinya manjur karena tulisan ini lancar saya ceritakan. Kadang kita tidak perlu sesuatu yang hebat, kita cuma perlu sesuatu yang sederhana untuk membuat kita tersenyum dan bahagia. Jujur saja ketika membaca blog-blog yang ikut berpartisipasi dalam #PeopleAroundUs ini saya cemas memikirkan apakah tulisan saya akan sebagus mereka, apakah akan menjadi cerita yang menarik untuk dibaca. Tetapi pada akhirnya, saya tahu, saya hanya perlu jujur menuangkan hati saya dalam cerita yang saya tulis.

Terima kasih buat Alex atas tweetnya tadi siang, cukup menampar lho! dan maaf pada ‘Backspace’ yang telah saya pencet-pencet dengan brutal dua hari ini. Mianhae.. *kecup-kecup keyboard*.

Don’t be sorry because you think your writings are bad. Be sorry if you do not write at all
-Alexander Thian

#PeopleAroundUs - Day1.  13 September 2013

No comments:

Post a Comment