April 3, 2012

Selamat Datang, KIMMY :)

Hampir sebulan yang lalu, seorang teman kelompok koas, Mitha, menawarkan kepada saya untuk mengadopsi seekor anak anjing dari temannya. Rabu, 28 maret 2012, saya membawanya pulang.

January 17, 2012

Photoboother

I love photo booth so much! unfortunately, now there is no photo box with a good quality print in Bali. and I am very grateful to people who create the photo booth site on the internet!! I've tried LaPhotoCabine, but now I find Photoboother via crafted by lindy. It is cool! so easy to use!





Perpisahan terakhir

Kehilangan itu seperti sebuah lubang kosong. Lubang yang tadinya berisi dengan hal-hal yang kita cintai. Lubang yang mungkin saja penuh terisi hingga meluap, atau bisa juga baru setengah terisi.
Kehilangan itu bisa saja berupa barang kesayangan ataupun barang yang sering kita pakai. Bisa juga orang yang kita cintai ataupun orang lain yang dekat dengan kita, sahabat, teman, teman dari teman, atau anak dari teman.
Kehilangan itu seperti ketika kita terpaksa atau dipaksa mengganti sesuatu yang setiap hari kita pakai, kita bawa kemana-mana, sesuatu yang dekat dengan kita, dengan sesuatu yang baru, karena yang lama itu rusak atau hilang.

Pagi tadi, kira-kira jam 9.27, saya pergi ke rumah seorang teman gereja (saya memanggilnya abang dan istrinya saya panggil kakak) di daerah Gatot Subroto timur. Abang dan kakak telah kehilangan sesuatu yang berharga dan sangat mereka sayangi. Ya, sudah 4 hari ini di dalam rumah mereka terbaring seperti tidur, anak laki-laki kebanggaan keluarga kecil ini. Hari ini, saya datang untuk mengucapkan selamat jalan untuk terakhir kalinya pada adik kecil tampan itu.

Mungkin saya belum menikah dan punya anak, tapi yang namanya kehilangan anggota keluarga itu pasti sangat berat dan sangat sedih. Sejak mendapat berita duka itu, saya datang melayat setiap hari hingga tadi pagi dimakamkan. Sejak itu pula, setiap hari terlintas pemikiran-pemikiran tentang kematian.
Tidak seorangpun tau kapan dia akan dipanggil pulang oleh pemilik kehidupan. Lalu siapkah kita ketika dipanggil pulang?

Saat dipemakaman tadi, Andrea berbisik "Aku nanti nggak mau mati". Anak kecil ini saja bisa bilang dia tidak ingin mati, apalagi saya. Mungkin maksud Andrea lebih kepada kematian itu menakutkan dan menyedihkan. Tapi bagi saya kematian itu seperti dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan atas apa yang sudah saya kerjakan di dunia ini. Saya merasa masih belum berjalan sesuai kehendak Tuhan, bahwa saya masih sering melanggar perintahNya. Saya belum siap untuk dipanggil. Tapi balik lagi pada kenyataan diatas kalau tidak seorangpun bisa mengatur tanggal kematiannya. Mungkin ini memberikan saya sebuah pencerahan bahwa hidup saya harus lebih dekat lagi kepada Bapa pencipta alam semesta.

Turut berduka ya Abang, Kakak...



December 31, 2011

Saya Juga Setengah Salmon

Perkenalan pertama saya dengan novel Raditya Dika adalah ketika Andini a.k.a Asur, sepupu Intan dari Jakarta, meminjamkan novel Radikus Makankakus. Saat itu saya baru semester 3, dan novel komedi bukanlah favorit saya. Namun, saya jatuh cinta pada tulisan-tulisan Dika di novel itu. Lalu mulailah saya bergerilya dari Kambing Jantan hingga novel terbarunya, Manusia Setengah Salmon. Dan ketika orang banyak menyimpulkan Dika adalah penulis yang lucu dan gokil, saya melihatnya sebagai orang yang konyol tapi pintar. Masih saya ingat bagaimana tulisan "Di Balik Jendela" dalam novel Cinta Brontosaurus sukses membuat saya menangis bombay. Padahal ada beberapa bagian dimana dia harus duduk bersebelahan dengan si bule ikan asin, tapi Dika membuat saya ikut merasakan apa yang dia rasa di balik jendela bus malam itu.

Kalau Dika bilang ada yang beda pada novel terbarunya, Manusia Setengah Salmon, saya akan bilang "saya sudah merasakan perbedaan itu di novel Marmut Merah Jambu, bang!". Cerita cinta versi Dika itu mudah simpel, mudah dicerna tanpa konflik yang rumit, serumit sinetron di tv dari anak yang tertukar berlanjut sampai cucu-cucunya ikutan tertukar. Dika menulisnya tetap dengan gaya komedi, tapi ada sebuah pemikiran yang matang yang ada didalam cerita itu sendiri. Pemikiran yang apa adanya namun benar adanya.

Bagi saya, MMJ adalah bentuk setengah matang dari proses perpindahan yang dimaksud Dika, MSS adalah bentuk perpindahan itu sendiri. Tulisan 'ledakan paling merdu' dan 'kasih ibu sepanjang belanda' agak menyentil saya. Jujur, akhir-akhir ini saya ingin bisa mandiri, terlepas dari tanggung jawab orang tua, bisa bebas pergi dan melakukan yang saya mau. Selalu ada rasa tidak ingin dicari-cari oleh mama dimana saya berada dan mulai memiliki rasa ketidaksabaran terhadap orang tua. Dan tulisan Dika membuat saya bercermin betapa suram hidup ini tanpa mereka disisi kita. Untuk itu saya berterima kasih.

Dua bulan yang lalu, saya mengalami perpindahan hati. Dan, ketika sesuatu sudah mulai sempit dan tidak nyaman, saat itulah seseorang harus pindah ke tempat yang lebih luas dan (dirasa) cocok untuk dirinya (Sepotong Hati di Dalam Kardus Coklat - hal. 29). Dalam hal ini, saya yang meminta dia untuk pindah. Saya bukanlah rumah yang tepat untuknya, bukanlah rumah tempat dia pulang (Mencari Rumah Sempurna - hal. 245). 

Perpindahan adalah suatu proses yang pasti terjadi di dalam hidup manusia. ketika selesai membaca novel ini, saya sadar kalau saya telah menjadi manusia setengah salmon, karena sudah memiliki keberanian untuk melakukan perpindahan, berani memilih hati baru untuk saya tempati, berani untuk melakukan pencapaian lebih. Sekali lagi terima kasih karena membuka pikiran saya tentang perpindahan hidup yang tidak saya sadari jika saya memiliki keberanian itu. *hugs*